Pura-Pura Lelah

Aku pura-pura lelah agar kamu mau membopongku kemanapun aku mau. Agar kamu mau menyiapkan air panas untukku mandi.

Aku pura-pura lelah agar kamu mau menyediakan pangkuanmu, kamu mau mendengarkan keluh kesahku dan kamu mau memberiku sedikit candaan penghibur.

Aku pura-pura lelah agar kamu mau menggandeng tanganku. Tidak ingin melepaskannya.

Aku pura-pura lelah agar kamu pulang lebih cepat. Membawakan segenggam bunga melati. Biar aku berseri, katamu.

Aku pura-pura lelah agar aku bisa bersandar di pundakmu. Sambil menonton TV. Lalu kita diam saja tidak perlu banyak bicara. Aku menyukai waktu-waktu seperti itu.

Aku pura-pura lelah agar kamu mau membuatkan secangkir kopi. Menanyai kondisiku. Melihatkan kekhawatiranmu.

Repost : http://kurniawangunadi.tumblr.com/

Bersamaku … .

Bersamaku kamu tidak perlu repot-repot berdandan berjam-jam. Toh make up mu akan kalah oleh hujan. Kita akan hujan-hujanan. Toh nanti make-up mu akan hilang di basuh wudhu. Sederhana saja kan lebih enak.

Bersamaku, kamu tidak perlu takut berbuat aneh. Tidak perlu repot mengatur diri agar terlihat anggun. Aku tidak sedang berjalan bersama model di catwalk kan. Sederhana saja kan lebih nyaman.

Bersamaku, kamu tidak perlu takut untuk kentut atau ijin ke belakang berlama-lama. Namanya juga manusia. Kalau ditahan nanti masuk rumah sakit. Sederhana saja, keterbukaan kan lebih menenangkan.

Bersamaku, kamu tidak perlu repot makan bergaya eropa. Kita akan makan di manapun. Selama halal, bersih, dan sehat. Kita bisa sambil bercanda sesekali dalam jeda. Sederhana saja kan lebih asyik.

Bersamaku, kamu tidak perlu takut kalau tidak bisa masak. Tidak perlu takut tidak bisa mengurusku. Kan tugasku yang mengurusmu. Menjamin kehidupanmu sebagaimana yang telah aku janjikan kepada orang tuamu. Memastikanmu baik-baik saja. Kamu cukup bersamaku dan menjadikan kebersamaan kita sebagai pahala. Sederhana saja bukan, tidak saling menuntut berlebihan.

Bersamaku, kamu tidak perlu takut untuk menjadi dirimu sendiri. Kamu boleh marah, kamu boleh menangis, kamu boleh bahagia. Selama kamu tidak berlarut-larut berdiam diri. Kan aku bukan cenayang. Sederhana saja kan, saling bicara lebih menentramkan,

Bersamaku, kamu tidak perlu takut kehilangan teman. Teman-teman baikmu ajaklah kemari, kenalkan padaku. Aku akan menjadi teman baik mereka juga. Agar kita bisa bermain bersama-sama dengan mereka di waktu luang.

Bersamaku, semua hal yang kamu takutkan tidak perlu kamu takutkan lagi. Sederhana kan. Aku hanya ingin menghilangkan ketakutanmu ketika sendiri.

Mau bersamaku?

Repost : http://kurniawangunadi.tumblr.com/
Sederhana yang dikatakan Mas Gun, menceritakan seorang laki-laki yang menyederhakan smuanya :)

Tulisan : PDKT

 

Ada orang yang setiap hari sms menanyakan kabar dan menanyakan ini dan itu, sedang apa dan sama siapa. Dimana dan mau apa.

Ada orang yangdiam-diam mengirimkan bunga atau kartu pos lucu. Bergambar dan berwarna merah hati.

Ada yang rela mendatangi mu ke stasiun kereta atau bandara hanya untuk bilang, “Hati-hati dijalan kalau udah sampai kasih tau ya”

Ada yang menelpon setiap hari seolah pulsanya tak terbatas, mengobrolkan apa saja dari kucing tetangga mati keracunan hingga kisah keong yang tiba-tiba melanda negeri.

Ada yang mention kesana kemari, terlihat perhatian sekali hingga bisa dibaca semua orang.

Astaga. Ada yang diam-diam mengintip sosial media tanpa berani apa-apa, sekedar tahu tapi ya sudah, tidak ada apa-apa. Diam saja.

Ada yang dengan terlihat alim membangunkan sahur, mengingatkan salat. Tapi tidak pernah ada yang mengingatkan mati.

Ada yang dengan percaya diri menitipkan salam kepada ayah ibunda tanpa tahu siapa mereka.

Ada. Ada yang bertanya kesana kemari pada kawan-kawan dekat, apa yang dia sukai dan tidak dia sukai.

Lalu di bumi yang lain, pada saat yang bersamaan. Ada yang diam-diam menyimpan doa, menjaga harinya, memendam sempurna, dan percaya bahwa pengaturan Tuhan adalah keniscayaan. DIa berusaha mendekati-Nya. Mencintainya akan menjadi bait doa, menjadi karya, mencintai menjadikannya tahu bahwa Tuhan sedang menguji keimanannya. Hingga pada satu titik dimana dia telah memahami, dia mendatangimu dengan membawa keyakinannya dan berkata. “Aku telah yakin kepadamu, sudikah menjadi bagian hidupku dan setelah matiku?”

Repost : http://kurniawangunadi.tumblr.com/post/56148797510/tulisan-pdkt